;

Minggu, 27 April 2008

SEMUA TENTANG IBU



Saatku terbangun dari tidurku
Yang terpikir hanyalah dia seorang
Yang selalu menentramkan hidupku
Disaat hatiku gelisah

atapanmu bagaikan sinar
ang menerangi kegelapan hatiku

Bisikanmu selalu terngiang ditelingaku
Nafasmu adalah kehidupanku
Dan candamu adalah kebahagiaanku

Ditelapak kakimulah kumengabdi
erikat dalam kasih sayangmu
Kau berikan seluruh restumu
Agar ku bisa melanjutkan cita-citaku

Namun....,
ebelum Sang Fajar menutup bola matamu
ngin ku ucapkan suara hatiku padamu
Ibu, maafkan semua kesalahanku...”

KAU & AKU

Detik demi detik kulalui bersamamu
Diantara gelap dan terang
Diantara hitam dan putih
Dan, diantara suka maupun duka

Inilah kisah tentang kita
Semua berawal saat kita bertemu
Mencoba tuk memulai dengan persahabatan
Yang akan menghiasi perjalanan hidup kita

Mungkin inilah yang dinamakan sahabat sejati
Merajut mimpi manis berdua
Kau dan aku
Akan selalu bersama

Oh, sahabatku! Kaukah itu?
Aku takkan pernah sanggup
Bila kau tinggalkan
Jadi, tetaplah bersamaku
Tuk wujudkan rasa yang terindah

Jumat, 25 April 2008

Cerpen

Bersinarlah Matahariku


Sini, Pak! Sini.., kuminta suamiku duduk mendekat agar kami tidak ketetesan air hujan. Petang ini, kami sedang berada di terminal kampung Rambutan. Sebuah terminal yang sudah tidak asing lagi di pendengaran kita. Terminal yang bisa dibilang begitu �� kumuh!! Tapi dibalik semua itu harus diakui bahwa ratusan keluarga menggantungkan hidupnya di sana.

Kunikmati sesendok demi sesendok lontong kari dihadapanku. Kulihat suamiku pun demikian, sangat menikmati tahu campur kesukaannya. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada pemandangan unik didepanku. Si Ibu penjual tahu campur sedang tidur mengeloni anaknya, bocah laki-laki berumur lebih kurang 3 tahunan. Seringkali tetesan air hujan jatuh tepat di dahinya. Si ibu yang begitu cepat tertidur pulas, tak tahu kalau air hujan nakal itu telah mengganggu buah hatinya.

Aku langsung teringat pada Karim, putra kami. Dalam keadaan seperti itu si Ibu masih tetap dapat mendampingi putranya, sementara aku? �Sekarang dia sedang apa ya, Pak?� tanyaku mengejutkan suamiku. �Siapa? Karim?� tebak suamiku yakin. �Kenapa, Ibu ingat dia? Sabar, ya Bu. Dia pasti juga ingat Ibu,� hiburnya, membuatku tak bisa menahan air mata. �Pak, Ibu kangen dia,� ujarku lirih. Untuk pertama kalinya kutinggal anakku sendiri di Bandung, hanya ditemani pengasuhnya. Kami harus datang ke kota metropolitan ini, demi karirku. Dan suamiku rela cuti, hanya untuk mengantarku. �Tidak baik Ibu pergi sendiri, walaupun untuk urusan kerja. Biarlah besok Bapak antar. Bapak masih punya jatah cuti, kok!� kata-kata suamiku tadi malam masih terngiang-ngiang di telingaku. Allah�terangilah selalu hati hamba-Mu ini agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Agar keegosian hati tidak menjebak hamba.

Kembali kulihat ibu dan anak yang sekarang masih tertidur pulas. Hujan sudah mulai reda. Kami berniat segera pulang. Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. �Sudah, Pak,�kataku pada Bapak yang menunggu kaki lima ini, mungkin suami si Ibu. �Maaakk! Udah tuh!� teriakannya mengagetkan si Ibu. Cepat-cepat Si Ibu bangun dan mengatakan harga dua piring dan dua gelas yang telah kami habiskan. Si kecil pun ikut terbangun. Sambil duduk dia balik memainkan air hujan yang menggenang di dekatnya. Dasar anak-anak. Sepertinya mereka tidak peduli dan bahkan tidak pernah menuntut kehidupan yang lebih baik dari yang sedang mereka jalani. Apapun yang terjadi pada mereka� bagaimana pun kondisi mereka� mereka akan selalu menikmatinya. Setelah kubayar jumlah yang disebutkan, kami pun beranjak pergi.

Setengah berlari, kami menuju tempat bus antar propinsi dan berebut dengan penumpang lainnya. Bus Patas AC ini tak enghilangkan penat yang kami rasakan. Belum lagi rasa bersalah yang memenuhi dadaku. Sengaja atau tidak aku telah memaksa suamiku meninggalkan tumpukan tugas kantornya. Juga telah menelantarkan anakku�membiarkannya semalam bersama orang lain. Tanpa suara lantunan ayat suci dan dendangan sholawatku yang biasa mengantar tidurnya. �Maafkan Ibu, Pak,� ucapku sambil bersandar di pundak suamiku disambut dengan elusan tangannya di punggung tanganku. Selanjutnya, kubaca Al Fatihah dan kukirim khusus buat buah hatiku�sekedar mengurangi rasa bersalah ini.

Kami tiba di rumah pukul satu tepat. Karim sudah pulas�sendirian. Wajah tanpa dosanya membuat air mataku kembali deras mengalir. Maafkan Ibu, Sayang. Kucium dahi bocahku. Besok, Insya Allah tepat sebelas bulan usianya. Dan sampai hari ini aku masih tetap sibuk, bukan mengurusnya tapi mengurus pekerjaanku, mengejar karirku. Allahu robbi.

�Selamat, Mbak Fati. Saya dengar presentasi Mbak kemarin sukses!� sambut Ine, teman seruanganku membuatku terkejut. �Maaf, Ne. Saya terlambat. Si Adek (panggilanku untuk Karim) tidurnya pulas. Baru bangun jam tujuh tadi, jadi Saya menunggunya. Maklum, kemarin kan tidak ketemu seharian. Saya kangen, eui!� kataku sambil tersenyum. �Pak Bos sepertinya paham kok, Mbak. Barusan, rekanan kita yang di Jakarta telpon pada beliau dan mengatakan bahwa presentasi Mbak membuat mereka tertarik. Hasilnya, order dalam jumlah besar dan dalam waktu dekat!!� kata Ine berapi-api. �Pesan Direktur, begitu sampai Mbak diharap segera menghadap. Sepertinya Beliau ingin menyampaikan selamat secara langsung pada Mbak,� lanjutnya.

Sekarang, sudah tiga bulan sejak peristiwa itu. Aku masih berkutat dengan pekerjaanku yang dinilai cukup sukses oleh tim manajemen. Kemarin, Direktur memanggilku. Aku dipromosikan untuk sebuah jabatan baru. Imbalan yang ditawarkan cukup memikat. Bahkan kalau boleh jujur, jauh lebih tinggi dari gaji suamiku. Sebuah tawaran yang sempat membuatku bimbang. Dan aku minta waktu dua hari untuk memikirkannya. �Terima saja, Fati. Dengan gaji sebesar itu, impian kalian akan segera terwujud. Rumah.. bahkan mobil mewah!! Putramu akan menjadi anak orang kaya. Segala yang dimintanya dapat kalian penuhi dengan segera. Kalian bisa pergi berlibur, bahkan ke luar negeri!! Dan yang pasti, kamu juga dapat membantu suamimu meringankan bebannya. Ayo, Fati. Kesempatan tidak datang dua kali. Ambil kesempatan ini atau kalian tetap akan seperti sekarang?� �Jangan Nurul. Uang belum tentu menjamin kebahagiaan. Bisa jadi kamu akan semakin sering menelantarkan keluargamu. Membiarkan mereka tanpa kehadiranmu. Dan putramu hanya akan terpenuhi kebutuhan materinya saja. Sementara, kasih sayang seorang Ibu yang dia butuhkan sulit kamu penuhi. Kamu mungkin hanya bisa membelikan tanpa pernah mengetahui kapan dia memakainya. Yang paling menyedihkan adalah jika kemudian dia menjadi lebih dekat dengan pengasuhnya daripada dengan ibunya.� Batinku mulai berperang. Ya Allah, Bantu hamba memutuskan yang terbaik. Berilah hamba petunjuk dan hidayah-Mu, Robbi.

Tak terasa hari ini adalah deadline dimana aku harus memberikan jawaban pada Direkturku. Pagi ini seperti biasa kami berangkat berdua. Karim melambaikan tangannya saat kami tinggal tadi. Oh, matahariku. Bersinarlah terus Sayang�Ibu ingin selalu melihat sinarmu dalam setiap helaan nafas Ibu.

�Karim, sini Nak. Ibu bacakan ceritanya. Karim mau cerita yang mana?� �Ni�.,�katanya sambil menunjuk salah satu cerita dari buku serial Anak Muslim: kisah sebuah tong sampah. Mulailah aku bercerita lengkap dengan mimik wajah yang sangat disukainya. Bahkan kadang dia menirukan caraku bercerita saat menceritakan kembali kisah tersebut ke teman bermainnya. Allah..Subhannallah. Senyumku mengembang, senyum yang tak pernah kurasakan ketika aku masih sibuk dengan pekerjaanku enam bulan yang lalu.

Memang, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Sebuah keputusan yang disesalkan banyak pihak terutama di tempat aku bekerja. Namun sekaligus sangat menggembirakan keluargaku. �Alhamdulillah, Bapak bangga pada Ibu. Saat di puncak karir, Ibu rela melepaskannya demi keluarga. Bapak memang tidak salah memilih pendamping hidup dan Ibu dari anak-anak kita. Alhamdulillah,� kata-kata suamiku masih cukup melekat dibenakku saat aku ungkapkan keputusanku, pada malam sebelum aku menghadap direkturku. �Iya Pak. Ibu iri pada Ibu pedagang kaki lima di terminal kampung rambutan waktu itu, yang bisa terus bersama putranya. Sementara Ibu hanya bisa memberikan materi untuk Karim. Padahal kita berdua sangat paham bahwa waktu bersama orang tua adalah saat yang penting bagi perkembangan anak kita,� sahutku waktu itu. Alhamdulillah, sekarang aku di rumah. Menunggu suamiku pulang dari kerjanya sambil menjaga butik kecil yang kurintis enam bulan lalu. Sementara Karim terlelap setelah mendengar ceritaku. Subhannallah..Alhamdulillah, Ya Allah. Kau tunjukkan pada hamba jalan ini, gumamku sambil berjalan menuju tempat tidur bocah kecilku. (Awal Maret-03)

CERPEN

Cinta Gila

Oleh
HERU KURNIAWAN

"Aku mencintaimu," kata ini meluncur dari seorang pemuda yang berpakaian rombeng dan belepotan kotor. Ia nyengir, seperti tak ada beban berkata seperti itu. Dan perempuan yang diajaknya bicara hanya cengar-cengir, menggerak-gerakkan tubuhnya yang terbalut kain kotor. Ia senyam-senyum, cengengesan dan mengulum ibu jarinya.
"A.....pa, akang mencintaiku," kata perempuan itu pelan dan lenjeh, "aku juga mencintai akang," lanjutnya.
Pemuda itu tersenyum, cengengesan, dan segera berlari. Aneh, tapi itulah yang selalu diperbuatnya. Ia lari kencang sekali, tak peduli. Lari tanpa arah, yang dibenaknya hanya ada kata: sungai. Dan, di sungai yang kotornya tak ketulungan pemuda itu menceburkan diri,"byuuuurrrrr"
"Ha...ha...ha....," rupa-rupa anak gelandangan yang melihat kejadian ini tertawa.
"Sungai inikan habis kita kencingi"
"Tadi, aku juga buang tahi"
"Orang gila itu hebat, berani mandi dengan kencing dan tahi kita"
Kata-kata anak gelandangan itu bersahutan. Menertawakan.
Pemuda itu tak peduli, terus mandi dan berenang ke tepian. Seterusnya ia mengusir anak-anak gelandangan itu.
"Dasar anak-anak gila, edan, gila...," teriak pemuda itu.
"Kamu yang gila, ceritanya lagi jatuh cinta...ha..ha..ha.." ledek anak-anak itu.

***
Di perkampungan kumuh itu, siapa yang tidak mengenal pemuda gila itu. Orang-orang memanggilnya pemuda gila. Tingkahnya yang selalu aneh semakin melegitimasinya sebagai pemuda gila; suka mandi di kali yang kotor, berteriak memanggil nama-nama perempuan, nyanyi-nyanyi sendiri, bicara sendiri semuanya sudah jadi kebiasaan setiap hari. Tapi, ada penghargaan terhadap pemuda gila itu, ia pintar, cerdas, dan dermawan sekalipun hidupnya sangat hina dan miskin. Jangan menyebutnya miskin, karena dalam dunia orang gila yang hina tak ada yang memikirkan harta, yang ada hanya pikiran mengisi perut untuk hari ini. Hebat, tak pernah memikirkan uang untuk jadi kaya.
Ceritanya pemuda gila itu lagi jatuh cinta. Sama siapa? Sama gadis gila yang biasa berkeliaran di jalan. Siapa namanya? Tidak tahu. Rumahnya? Juga tidak tahu. Di mana ketemunya? Di tepi jalan. Waktu itu, gadis gila itu lagi nyanyi-nyanyi dengan menggendong boneka. Di matanya boneka itu adalah anaknya.
"Mau ke mana, Neng?"
"Cari ayah, untuk anak ini"
"Emangnya siapa ayahnya?"
"Tidak tahu. Tapi, kamu kok mirip juga dengan pemuda yang memerkosaku dan mengambil anakku."
"Masak!"
"Iya bener, wajahmu, matamu, hidungmu, tubuhmu, iya mirip benar dengan orang yang kucari"
Sejak itu, pemuda itu merasa bangga dengan dirinya. Ia merasa lelaki, sebab ada perempuan yang mencari. Dan dia jatuh cinta, saban hari yang selalu dilakukannya adalah berkata tentang Cinta. Cinta. Cinta. Tak mengherankan bila sebagian teman-temannya yang gelandangan dan gila juga mengatakan ia semakin gila karena Cinta. He...he...he...
Pemuda itu terus berlari, anak-anak gelandangan mengikutinya di belakang.
"Hidup Cinta, hidup Cinta, hidup Cinta," teriak anak-anak itu layaknya suporter kesebelasan yang mendukung timnya bermain pertandingan sepak bola.
Di depan warung penjual es, semua berhenti. Dan, pemuda itu memesan es sejumlah dengan pengikutnya. Semua ditraktir es oleh pemuda gila itu. Asyik kan.
"Wah, hebat. Cinta itu hebat, ya. Bisa bikin kaya, buktinya si Gila ini mentraktir kita hanya karena Cinta," seru salah seorang anak.
Pemuda itu tersenyum. Nyengir. Bego.
"Cinta itu sebenarnya apa sih, Gila," tanya seorang anak pada pemuda gila itu.
"Cinta itu,...nanti dech kutunjukkan. Sekarang habiskan dulu es-nya."
Setelah selesai pesta es, pemuda gila itu berkata, "apa kalian pingin tahu, Cinta itu apa?"
Serentak anak-anak gelandangan itu menganggukkan kepala.
"Ayo, sekarang ikut aku. Akan kutunjukkan pada kalian Cinta itu apa," kata pemuda gila itu. Dan berlari. Semua anak mengikuti dengan perasaan penasaran. Di tepi jalan raya yang dipadati kendaraan pemuda gila itu berhenti. Anak-anak gelandangan itu mengikuti. Berhenti. Napas mereka tersengal-sengal. Kesal.
"Ayo, dong katakan Cinta itu apa, Gila?" kata salah seorang anak.
"Cinta itu tidak bisa dikatakan, tapi hanya bisa ditunjukkan," kata pemuda gila itu. Menegaskan.
"Kalau begitu tunjukkan dong, biar kita tahu Cinta itu apa?" tanya anak yang lainnya.
"Baiklah, lihat ini"
Pemuda itu segera berlari menyeberang jalan raya itu. Dan...
"Ha!"
Semua mata anak-anak gelandangan itu terbelalak. Gila, seru mereka dalam hati. Melotot, mereka tak percaya. Menyaksikan pemuda gila itu menabrakkan tubuhnya sendiri pada sebuah mobil yang melaju sangat kencang. Darah berhamburan membuncah. Tubuh pemuda gila itu berkeping-keping hancur. Pisah. Kepala pemuda itu menggelinding ke arah gerombolan anak gelandangan itu.
"Inilah Cinta," lirih kata kepala pemuda gila itu. Kemudian menutup matanya. Mati.
"Lari....!" seru salah seorang anak.
Mereka berhamburan pergi. Berlari dan salah seorang anak itu membawa kepala pemuda gila itu.
Di padang perkebunan yang luas anak-anak gelandangan itu berhenti. Napas mereka tersengal-sengal. Dan ingatan mereka terus terbayang kematian pemuda gila itu yang tragis.
"Itulah Cinta anak-anak, sama dengan kematian," kata ruh pemuda gila itu yang merasuk ke batin anak-anak gelandangan itu. Semua pikiran anak gelandangan itu sedang berkecamuk, menafsirkan arti Cinta yang tadi dijawab oleh pemuda gila itu dengan kematian.
Anak-anak, Cinta itu mati. Cinta itu mengorbankan nyawa. Cinta itu bunuh diri. Cinta itu membinasakan. Cinta itu memisahkan tubuh menjadi bagian-bagian kecil. Cinta itu sama dengan kematian. Ha...ha...ha...bisik ruh pemuda gila itu pada anak-anak gelandangan itu.
"Apa yang kau bawa"
"Kepala si Gila"
"Ha!"
Semua anak terperanjat kaget, melihat teman mereka yang membawa potongan kepala pemuda gila itu. Kepala itu diletakkan di tanah, sebagian anak-anak menutup matanya takut melihat potongan kepala pemuda gila itu yang masih segar dan berlumuran darah.
"Untuk apa kau bawa kepala pemuda gila itu?"
"Untuk kuberikan pada gadis gila itu"
"Maksud, kamu, pacar si Gila ini"
"Ya"
Semua mata anak-anak gelandangan itu menatap kepala pemuda gila itu. Tenang. Hening. Seperti sedang terjadi penghormatan atas kematian pemuda gila itu.

***
Di tepi jalan ramai, seorang anak kecil menyerahkan sebuah bungkusan plastik pada gadis gila itu.
"Ini untukmu, Gila"
"Hore..hore...ada anak edan ngasih hadiah padaku. Hore.."
"Dasar gila," gerutu anak itu seraya pergi. Berlari.
Di rumahnya yang kotor, berlantai tanah, berdinding kertas kardus dan beratap plastik gadis gila itu membuka bungkusan plastik itu. Darah tersegap. Berhenti sejenak, mata gadis gila itu membulat seperti bumi. Muka memerah dan air mata berurai. Tarikan napasnya mengisyaratkan tekanan batin yang luar biasa memilukan.
Seketika ia mengamuk, rumah kotornya diobrak-abrik dan dibakar, tak ayal api merambat cepat dan membakar seluruh isi perkampungan kumuh itu. Api membara melahap semua yang menghadang, dan ratusan orang berteriak-teriak minta tolong seraya berusaha memadamkan api dengan air. Tapi sia-sia, api kadung sudah gila pula.
Gadis gila itu lari. Hilang. Entah ke mana.
"Lihat, itu ada mayat, di tepi sungai" seru seorang anak gelandangan. Segera, teman-temannya melihat yang ditunjuk anak itu. Dan, semua kaget saat mengetahui kalau mayat itu adalah gadis gila pacar dari pemuda gila itu.
"Inikah Cinta, Gila" seru hati setiap anak gelandangan itu.

***
Masanya terus beranjak, kini usia anak-anak gelandangan itu bertambah dua puluh tahun. Mereka telah dewasa. Tapi, aneh tak satu pun di antara mereka yang mau menikah atau pacaran. Kenapa? Mereka bilang takut dengan Cinta. Kenapa? Cinta itu Gila. Maksudnya? Dua manusia Gila itu telah mengajari Cinta, sungguh Cinta itu benar-benar Gila. Mematikan. Mereka tak mau mati. Tapi, apa kalian tidak melihat ibu-ibu kalian yang selalu resah menantikan kehadiran cucu, demi kelangsungan hidup manusia-manusia gila. Dunia perlu ekosistem, ada yang mulia, harus ada juga yang hina! Ha, apa benar, kita harus bagaimana?
Desa Mengger, 10 April 2005

* Judul Cerpen ini diambil dari salah satu judul lagu DEWA
"Cinta Gila".

Kamis, 24 April 2008

Pagi yang Indah

Mentari mulai menampakkan cahayanya

Ayam berkokok bersahutan

Burung berkicau riang di atas pohon

Embun pagi menetes di dedaunan

Angin berhembus sepoi-sepoi

Udara terasa sejuk menusuk relung hati

Bunga-bunga di taman bermekaran

Kupu-kupu berterbanganmengindahkan pagi hari

kendaraan mulai berlalu-lalang

Orang-orang terbangu dari tidurnya

Dengan semangat baru

Menyongsong pagi yang indah ini...

IS IT MINE TO KEEP”

Malam sabtu sebelum dirgahayu .gege mengajak caca kencan ke ZZ Bar.sebuah bar di bilangan kemang yang menawarkan tema yang berbeda tiap malamnya.Gege memang membutuhkan tempat yang romantis kali ini karena gege ingin melakukan sesuatu yang dia selama ini ingin dilakukan.Dia ingin caca menjadi pacarnya.dia sudah membuat mental note yang benar-benar jelas.Ada dua hal yang tidak terlihat yang dia harus percaya.

1.Bumi itu berputar

2.Jangn salah memanggil nama

Gege dan caca sampai di ZZB ar dan mendapati bahwa mereka datang di malam yang salah.Mereka terpaksa duduk di bar dengan garingnya karena semua meja yang ada didalam disingkirkan untuk menjadi lantai dansa.Suasana gaduh dan tidak terkendali,seperti yang semua orang inginkan.Sebagai mana layaknya model.Caca disapa banyak orang yang satu kasta dengannya,cantiknya dan tampan.Tapi seperti biasa,hukum gaul di Jakarta menstimulasikan untuk selalu membicarakan masalah orang di belakngnya,minimal 3 menit dari pertemuan terakhir.

Merasa minder dengan diskriminasi sosial ini,gege mencoba memesan minuman di bar,hanya untuk mendapatkan diskriminasi yang lain.Setelah itu caca dengan gege duduk di tepi danau diluar bar disalah satu bangku kayu.Gege memperhatikan caca.cantik luar biasa,parasnya bersih dan cantik.Sikap dan perilakunya pun tak bercacat.sebuah sosok yang sempurna,sosok yang dipandang fiktif bagi banyak orang.dia akan pergi sampai entah kapan,kembali menjauh dari gege setelah lama menunggu,berharap,dan menanti.Cinta itu menunggu lama untuk berbicara karena kamu terlalu jauh meski sebenarnya dekat.Cinta itu juga membuat kamu terasa dekat meski sebenarnya terlalu jauh.cinta itu hafal berapa langkah menuju kelas kamu,apa warna pita rambut kamu dan jam berapa kamu main hujan-hujanan di musim hujan.Gege memberanikan diri mengecup kening caca.Keduanya berpandangan.shock secara instant gege terbawa dalam lamunan.Caca berkata pada gege bahwa dia adalah satu pria yang bisa membuatku merasa nyaman,dan dia tau cara membuatku seperti orang yang paling penting sejagad.

IS IT MINE TO KEEP”

Malam sabtu sebelum dirgahayu .gege mengajak caca kencan ke ZZ Bar.sebuah bar di bilangan kemang yang menawarkan tema yang berbeda tiap malamnya.Gege memang membutuhkan tempat yang romantis kali ini karena gege ingin melakukan sesuatu yang dia selama ini ingin dilakukan.Dia ingin caca menjadi pacarnya.dia sudah membuat mental note yang benar-benar jelas.Ada dua hal yang tidak terlihat yang dia harus percaya.

1.Bumi itu berputar

2.Jangn salah memanggil nama

Gege dan caca sampai di ZZB ar dan mendapati bahwa mereka datang di malam yang salah.Mereka terpaksa duduk di bar dengan garingnya karena semua meja yang ada didalam disingkirkan untuk menjadi lantai dansa.Suasana gaduh dan tidak terkendali,seperti yang semua orang inginkan.Sebagai mana layaknya model.Caca disapa banyak orang yang satu kasta dengannya,cantiknya dan tampan.Tapi seperti biasa,hukum gaul di Jakarta menstimulasikan untuk selalu membicarakan masalah orang di belakngnya,minimal 3 menit dari pertemuan terakhir.

Merasa minder dengan diskriminasi sosial ini,gege mencoba memesan minuman di bar,hanya untuk mendapatkan diskriminasi yang lain.Setelah itu caca dengan gege duduk di tepi danau diluar bar disalah satu bangku kayu.Gege memperhatikan caca.cantik luar biasa,parasnya bersih dan cantik.Sikap dan perilakunya pun tak bercacat.sebuah sosok yang sempurna,sosok yang dipandang fiktif bagi banyak orang.dia akan pergi sampai entah kapan,kembali menjauh dari gege setelah lama menunggu,berharap,dan menanti.Cinta itu menunggu lama untuk berbicara karena kamu terlalu jauh meski sebenarnya dekat.Cinta itu juga membuat kamu terasa dekat meski sebenarnya terlalu jauh.cinta itu hafal berapa langkah menuju kelas kamu,apa warna pita rambut kamu dan jam berapa kamu main hujan-hujanan di musim hujan.Gege memberanikan diri mengecup kening caca.Keduanya berpandangan.shock secara instant gege terbawa dalam lamunan.Caca berkata pada gege bahwa dia adalah satu pria yang bisa membuatku merasa nyaman,dan dia tau cara membuatku seperti orang yang paling penting sejagad.

“ASMARA BERBICARA “

Gege dan caca kembali berkencan.mereka berjalan-jalan dalam sebuah toko didalam sebuah mall.kerling mata dan senyum saling berbalas dan membuat gege semakin gugup.dia tidak mengira bahwa ada balasan yang mungkin besarnya sama dari wanita yang dia tunggu dari kecil.mereka kembali berjalan-jalan,namun sekarang sudah mulai tidak fokus.keduanya telah mulai membuka kartu masing-masing memperlihatkan bahwa mereka saling memiliki perasaan untuk satu sama lain.Gege menghentikan langkah dan mereka berdiri berhadapan.

“DANCING QUEEN”

Akhir tahun ajaran gege masih menyukai caca namun caca telah menjadi pacar dari mantan ketua OSIS.seluruh anggota OSIS aktif yang saat itu baru selesai kelas 2 diwajibkan untuk menyiapkan pesta perpisahan bagi kelas 3 yang baru selesai EBTANAS.penunjukan ketua panitia adalah sebuah adat-istiadat diman seorang anggota OSIS ditunjuk dan yang ditunjuk.G ege dengan sigap mempersiapkan semuanya.hanya saja,jiwa kepemimpinan yang tidak ada,membuat gege dengan spektakuler tidak di hiraukan dan pada akhirnya tugas gege sebagai ketua meliputi trasportasi,bendahara,sekretaris,seksi acara,sampai justru setrum.hari pertama menjelang hari perpisahan gege dengan sukses ditinggal panitia yang lain untuk bekerja sendiri,hanya seksi dekorasi yang dipimpin oleh caca yang bersedia datang kebalai sekolah dan menyiapkan jelasnya dekorasi.

“AWAL DARI SEGALANYA”

Tahun ajaran baru satu bulan berjalan di SMP 19 Jakarta ketika para guru memutuskan untuk mengajak semua siswa kelas 2 berkaryawisata ke Bogor.Mereka sampai di bogor setelah 2 jam perjalanan.

kebanyakan anak laki mengambili bunga dikebun raya dan memberikan pada anak baru itu yang bernama caca.Disana terdapat bunga 19 Jakarta ketika para guru memutuskan untuk mengajak siswa kelas dua untuk berkaryawisata ke Bogor.Mereka sampai disana setelah dua jam perjalanan.Gege dan teman-teman kali ini berebut keluar bus untuk melihat anak baru.anak baru itu perempuan.Karyawisata ini dipakai oleh kebanyakan anak laki untuk mengambili bunga dikebun raya dan memberikan pada anak baru itu yang bernama caca.disana terdapat bunga matahari tibet.spesies langka.Disaat makan siang gege berusaha mendekati caca dan berusaha berebut dengan untuk berkenalan dengan caca.




Rabu, 23 April 2008

Mir Space Station
Tanggal 23 Maret 2001 lampau, stasiun luar angkasa Rusia, Mir akhirnya menyelesaikan masa tugasnya selama 15 tahun di antariksa. Pusat pengendali Misi di Korolyov, luar kota Moskow mengarahkan stasiun berukuran 33m X 30m X 27m dengan berat 137 ton itu memasuki atmosfir Bumi [lanjut]

Extrasolar Planets
Tanggal 4 April 2001 lalu, sekelompok tim astronom internasional mengumumkan penemuan 11 buah planet baru yang berada diluar tata surya kita, atau yang biasa diistilahkan dengan Extrasolar Planet. Penemuan ini menambah jumlah Extrasolar Planet yang telah diketahui menjadi 63 buah. [lanjut]

Mengembara ke Planet Merah
Tanggal 7 April 2001, wahana antariksa 2001 Mars Odyssey diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida dengan tujuan planet Mars. Wahana tak berawak yang namanya diambil dari judul film klasik "2001 Space Odyssey" ini membawa seperangkat instrumen ilmiah untuk meneliti permukaan planet tersebut, khususnya karakteristik cuaca dan geologi disana, sekaligus juga bertugas mengumpulkan informasi mengenai potensi bahaya radiasi yang mungkin dapat membahayakan manusia di permukaan planet merah itu. [lanjut]

"Pionir" Penjelajahan Antar Planet

Sinyal dari Pioneer 10, wahana antariksa pertama yang melintasi planet Jupiter akhirnya kembali terlacak setelah sebelumnya menghilang selama delapan bulan. Sinyal yang dikirim oleh wahana yang kini berada lebih dari 7 milyar mil dari bumi (sekitar 12,6 milyar km), dalam pengembaraan keluar tatasurya itu diterima oleh stasiun pelacak di Madrid, Spanyol pada 28 April 2001. [lanjut]

Antariksa dan Astronomi

Kuiper Belt Object
Apakah pluto benar-benar sebuah planet? Ini bukanlah pertanyaan yang mengada-ada. Memang sejak berpuluh-puluh tahun, baik para astronom maupun masyarakat awam beranggapan bahwa Pluto adalah planet ke-9 dalam tata surya kita. Namun demikian, sejak tahun 1992 pandangan tersebut perlahan-lahan mulai berubah ketika para astronom menyadari bahwa selepas orbit Neptunus terdapat sebuah daerah orbit dimana didapati sekitar 70.000 objek kecil, beku berbalut es yang bergerak lambat mengorbit matahari. [
lanjut]

Reformasi Budaya

Bangsa kita kaya akan budaya
Budaya di banngsa kita kaya
Berbudayakah bangsa kita
Budaya siapakah dia

Reformasi... .
Kebebasan berekspresi
Kebabasan membuka diri
Kebebasan tuk memberi

Reformasi... .
Haruskah budaya juga
Kebebasan yang ada semkin tak terjaga
Bebas tapi terpenjara

Ada budaya di bangsa kita
Yang harus di ubahkan
Ada budaya di bangsa kita
Yang harus di lestarikan

Budaya harus kita jaga agar tak ternodai
Jangan budayakan korupsi
Budayakan puisi
Budayakanlah seni

Budaya yang ada sedikit yang murni
Budaya yang murni sedikit ada
Hati nurani kadang berkata
Inikah budaya bangsa

Bangsa yang kaya akan budaya
Bangsa yang selalu berjaya
Bangsa kita harus berjaya
Bangsa kita harus berbudaya

Mari generasi muda bangsa
Kita jaga dan hormati budaya bangsa
Bukan budaya para penguasa
Budaya yang harus dijaga adalah budaya bangsa

Budaya berasal dari Budi dan Daya
Akal sehat tuk berkarya
Membangun nusa dan bangsa
Membawa Kehormatan bangsa

ALAM MUSIMDINGIN

Musimdingin gampang segera
menuju jurang malam
lambat lama mengantar siang
daun-daun sudah lama gugur
beberapa bulan lelap tidur
pepohonan gundul
pemandangan tumpul
sela antara siang dan senja
tak terasa dimainkan warna
kelam buram menelan alam
rasanya hati dan jiwa turut terbawa-bawa
ke manakah hilangnya kegembiraan?
ke manakah perginya keceriaan?
sehingga burung-burung mogok berbunyi
daun-daun berhenti menari
tapi stop! jangan diperturutkan rasa kedukaan
biar dia menanam diri dalam kebiasaan!

EdeLwEiS

Air matamu yang menetes di atas batu pegunungan

perlahan berubah menjadi serumpun

bunga "Edelweis!" seru para pendaki itu

berabad-abad kemudian

Sendiri di relung awan

kau tak mampu lari dari kenangan

yang datang menemuimu bersama angin dan cinta

"Tolong sampaikan

padanya, aku setia menunggu"

pesanmu berulang kali pada hujan yang bergegas

menjemput puncak pinus.

Selasa, 22 April 2008

Menulis Aksara Jawa di Komputer

Budi pekerti seseorang atau suatu bangsa (jawa) akan terlihat melalui bahasa yang dituturkannya. Tapi, kenapa kemudian bahasa jawa menjadi kurang populer di kalangan masyarakat jawa itu sendiri, bukanlah suatu alasan untuk melupakan apalagi membuang budayanya sendiri. Kita seharusnya malu pada diri sendiri (khususnya sebagai masyarakat jawa asli), karena kita malah kalah dengan orang asing yang dengan giat dan secara sukarela dalam mempelajari budaya jawa. Mungkin di suatu saat nanti, malah kita yang belajar kebudayaan jawa (menari, menulis huruf jawa, memainkan gamelan, dsb) dengan orang asing itu. Coba bayangkan betapa malunya kita….
Hal ini mungkin bukanlah seratus persen kesalahan masyarakat jawa. Terbatasnya sarana pembelajaran dan pendidikan bahasa jawa, terutama aksara jawa ikut berperan terhadap berkurangnya minat generasi muda untuk memakai dan melestarikan budaya jawa. Namun, sejak kurikulum 2004 diterapkan dan pemerintah membuka kembali jurusan Bahasa Jawa dan mewajibkan siswa untuk mempelajari bahasa jawa dari tingkat SD sampai SMA. Yang berdamapak pada banyaknya lowongan untuk guru Bahasa Jawa. Sehingga dapat menarik dan meningkatkan kembali minat masyarakat, terutama remaja yang dalam hal ini adalah tulang punggung penerus bangsa kita, untuk memakai dan melestarikan budaya jawa dengan mereka kuliah di jurusan Bahasa Jawa.
Selain pemerintah, para pakar teknologi pun juga ikut andil dalam mengembangkan budaya jawa dengan membuat software berbentuk font aksara jawa, yang dapat diaplikasikan melalui komputer. Sehingga kita dapat dengan mudah menulis aksara jawa di komputer dan membuat print out-nya. Bagi kalian (terutama mahasiswa Bahasa Jawa), yang ingin komputernya dapat menulis aksara jawa, software font-nya dapat didownload di sini atau di sini . Di sana terdapat software sekaligus tutorialnya untuk mempermudah dalam mempergunakannya, dapat didownload di sini